A. Garis Besar Kondisi Islam Asia Tenggara
Islam terus memutarkan roda penyebarannya, hingga ke seluruh penjuru
dunia, hal ini mencakup pula wilayah RAS Melayu, yakni Asia Tenggara.
Setelah Islam menyebar di daerah Timur Tengah dan mengekspansi kekuasan
ke wilayah-wilayah, kini giliran Asia Tenggara yang siap disinggahi dan
disebari dakwah syia’ar Islam (Badri Yatim: 2007,176). Asia Tenggara
merupakan tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah
rempah-rempah terkenal pada masa itu, dan Asia Tenggara mejadi wilayah
perebutan negara-negara Eropa.
Kekuatan Eropa lebih awal menginjakan kaki dan mengibarkan kejayaan di
negeri melayu ini, hal ini karena Kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih
lemah dibanding dengan kerajaan Timur Tengah, sehingga amat mudah untuk
ditaklukan, hal ini tergambar dengan merajalelanya kaum bangsa Eropa
yang menancapkan tongkat penjajahan. Asia Tenggara merupakan salah satu
negeri Dunia Islam, adapun yang dimaksud dengan dunia Islam yakni
negara-negara atau bangsa yang persentase penduduk muslimnya lebih dari
50 % dari keseluruhan jumlah penduduk.pertimbangan jumlah ini merupakan
pertimbangan pertama dan terpenting, disamping itu pula ada
pertimbangan-pertimbangan lain, seperti undang-undang negeri, atau
kepala nagar negeri, pula kebudayaan negeri itu.
Asia Tenggara menjadi salah satu bagian negara terbesar, kategorinya
yakni cakupan Islam yang luas, banyak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam
di wilayah ini menjadi tolak ukur tentang pernyataan bahwa Asia
Tenggara merupakan wilayah Islam terbesar dan terluas penyebaran syi’ar
Islamnya. Jumlah kaum muslimin di dunia hampir mencapai 1.344.000.000
yang berda di negara-negara kafir. Meskipun sjarah mencatat bahwa kaum
minoritas muslim berada di benua Asia, namun Asia Tenggara menpis bahwa
ranah ini menjadi daerah penyebaran Islam terbanyak..
Adapun luas wilayah dunia Islam secara global, mencapai 31,8 juta km,
atau sebanding dengan 25% dari seluruh luas dunia. Memanjang mulai dari
Indonesia di sebelah timur hingga ke Sinegal di sebelah barat dari utara
Turkistan hingga ke selatan Mozambik. Adapun wilayah-wilayah Asia
Tenggara secara khususnya mencakup negara-negara Malysia, Indonesia, dan
Filiphina Selatan. Adapun Islam telah tersebar dari wilayah ini lewat
jalur perdagangan dan dakwah.
Akhir Abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris, Denmark, dan Perancis yang
datang ke Asia Tenggara. Belanda datang pada tahun 1595 M dan segera
dapat memonopoli perdagangan. Sebagaimana di India, di Asia Tenggara
kekuasaan poltik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai
pertengahan abad ke-20 M, ketika negeri-negeri jajahan tersebut
memerdekakan diri dari kekusaan asing.
B. Kondisi Perkembangan Islam Di Malaysia
Portugis mulai menjalin hubungan denagn Malaka lewat kedok ekonomi dan
perdagangan, dan melalui kemenangan mereka dalam perang Dewa (915 H/
1509 M). Mereka kemudian menguasai Malaka pada tahun 917 H/ 1511 M.
Mereka telah berlaku sewenang-wenag di wilayah ini, pada tahun 1051
H/1641 M penjajahan ini terhenti, lalu dimulailah penjajahn Belanda.
Belanda mengawali aktifitasnya denagn mendirikan perserikatan dagang
Hindia-Belanda. Melalui perserikatan ini Inggris memperoleh pasar dari
Belanda, hingga akhirnya Belanda menghapuskan perserikatannya pada tahun
1215 H/ 1800 M. Kekuasaan Belanda di wilayah ini berakhir sejak tahun
1201 H/ 1795 M. Kemudian lewat perjanjian kesepakatan diantara mereka,
diserahkanlah Melayu kepada Inggris, sedangakan Belanda mendapatkan
kepulauan Indonesia. Setelah itu munculah revolusi didalam negeri
menentang penjajahan ini. Pada pertengahan perang Dunia II, Jepang
menguasai Melayu, setelah berakhirnya perang, Inggris kembali menjajah
wilayah ini. Mereka tetap berkuasa hingga negeri ini memerdekakan diri
pada tahun 1377 H/ 1957 M dengan nama Malaysia.
Islam pada saat ini sulit untuk disebarakn, terlebih negeri ini sedang
terguncang oleh dunia Eropa. Namun denagn gesit para penyiar dan
kerajaan0kerjaan yang masih bertahan perlahan Islam tersebar dan
berkembang di negeri ini, meskipun pada kenyataannya kondisi
perkembangan Islam di Malysia tidak sebesar perkembangan di Indonesia.
C. Kondisi Perkembangan Islam Di Maladewa Dan Filiphina
Islam tersebar di wilayah ini pada abad ke-6 H/12 M. Saat itu penjajah
Portugis telah sampai di wilayah ini. Kemudian disusul oleh Belanda dan
Inggris yang datang pada tahun 1211H/1796 M. Terjadilah perlawanan dan
revolusi di negeri ini sejak tahun 1305 H. Negeri ini berada dibawah
perlindungan Inggris sejak tahun 1367 H/ 1947 M, dan mengumumkan diri
sebagai negara republik yang merdeka pada tahun 1385 H/ 1965 M. Adapun
di Filiphina, Islam tersebar hampir mencapai seluruh kepulauannya, pula
telah berdiri pemerintahan Islam. Akan tetapi, munculah arus pemiliran
keagamaan yang dibawa oleh penjajah Spanyol yang amat dibenci.
Pada tahun 928 H/ 1521 M, secara mendadak Spanyol menyerbu
kepulauan-kepulauan Filipina. Mereka datang denagn membawa seluruh
dendam orang-orang salib terhadap kaum muslimin,. Maka, situasi di
Filipina saat itu hampir sama denagn situasi yang dialami oleh Islam
Andalusia. Penjajah Spanyol berada di Filiphina ini hingga tahun 1316 H/
1898 M.
Selama masa yang hampir mencapai 4 abad, telah terjadi upaya penjauhan
ajaran Islam dari generasi kaum muslim secara berturut-turut lewat jalan
peperangan yang menghancurkan kaum muslimin dan memaksa mereka untuk
memeluk agama Nasrani denagn ancaman kekerasan. Sekalipun demikian,
mereka tidak juga mampu mengalahkan pemerintahan-pemerintahn Muslim,
sehingga disana masih tersisa beberapa pemerintahan. Spanyol belum
berhasil sepenuhnya menguasai Filipina khususnya kepulauan Mindanao dan
Sulu.
Amerika Serikat kemudian menguasai kepulauan Filipina pada tahun 1317 H/
1899 M. Maka timbulah perlawanan menentanganya dan berlangsung hingga
tahun 1339 H/ 1920 M. Setelah itu kaum Muslimin menyerah, karena mereka
tealh ditimpa penyakit “wahn”(penyakit cinta dunia dan takut mati).
Kemudian tersebarlah berbagai penyakit, kemiskinan, kebodohan, dan
keterbelakangan diantara mereka.
Pada saat itulah orang-orang salib menawarkan berbagai bantuan, hingga
akhirnya Islam surut kembali di negeri itu. Amerika lalu mengumumkan
kemerdekaan bagi Filipina pada tahun 1366 H/ 1946 M. Sekarang ini Islam
hanya tinggal ada di 13 wilayah di selatan filipina, yang sampai saat
ini masih tetap menuntut pemerintahan otonomi dengan segala upayanya.
D. Kondisi Perkembangan Islam Di Indonesia
Adapun perkembangan Islam di Indonesia, dicerminkan dengan banyak
kerajaan kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri. Adapun awal masuknya
yakni lewat jalur perdagangan dan dakwah yang dibawa dari timur tengah
dan india lewat jalur Aceh.
Kondisinya bisa dikatakan lebih baik dari negeri-negeri Melayu lainnya,
seiring dengan banyaknya didirikan kerajaan-kerajaan Islam, seiring pula
datangnya para orang Eropa mencari rempah-remapah, hingga akhirnya
membentuk VOC. Indonesia yang menjadi tanah tropis dengan jalur garis
katulistiwa yang nian indah dan subur, ternyata mengundang minat dan
perhatian perdagangan dunia termasuk Eropa.
Eropa masuk lewat portugis dengan tujuan awal untuk berdagang namun
setelah lama tujuan mereka beralih untuk mengeruk kekayaan alam
Nusantara. Disamping itu merekan pun menyebarakan pula agama Nasrani,
hingga tersebarlah di Indonesia berbagai agama yakni Islam yang dibawa
oleh timur tengah, Nasrani oleh Portugis, dan Hindu Budha yang pertama
kali menginjakan kaki penyebarannya di Indonesia oleh India.
Sebelum Islam datang ke Indonesia sebelumnya telah lebih dahulu hadir,
dan penyebaran yang dilakuakn yakni oleh orang India yang membawa
dakawah agama Hindhu Budha. Maka sebenarnya, kerajaan yang berdiri
pertama kali banyak dari kalangan basic Hindu Budha, namun setelah
orang-orang Arab menginjaka kaki pertama kali di Nusantara dan sembari
membawa syi’ar dakwah Islam, maka seiring itu bedirilah
kerajaan-kerajaan Islam menyusul kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang
telah lama berdiri.
Adapun kerajaan-kerajaan Islam yang menjadi cermin pesatnya penyebaran Islam di Indonesia adalah:
1. Kerajaan Aceh ( 920-1322 H/ 1514-1904 M)
Kerajaan ini terletak disebelah Sumatera, wilayah ini memiliki posisi
penting, karena dua hal, yaitu karena penyebaran Islam dan perlawananya
terhadap penjajah. Sultan pertamanya yang terkenal adalah Ali Mughits
Syah (920-935 H 1514-1520 M). Namun masa kekuasaan yang gemilang
dipegang pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, diamana kekuasaannya
meluas dan terjadi penyebaran Islam hampir diseluruh Sumatera.
Kemudian kondisi ini semakin menurun disebabkan oleh bnayaknya
peperangan dan krisis ekonomi. Juga beralihnya kekuasaan ke tangan
ratu-ratu dalam beberapa masa periode. Juga karena peperangan yang terus
menerus melawan barat. Hingga akhirnya kerajaan ini jatuh ke tangan
Belanda pada tahun 1322 H/ 1904 M).
2. Kerajaan Demak (918-920 H/ 1512-1522 M)
Kerajaan ini hanya berumur pendek, namun pahlawan-pahlawannya adalah
Mujahid terbaik. Raja pertamanya adalah Raden Fatah, lau Patih Unus,
yang berhasil melakuakan ekspansi perluasan wilayah, diapun yang
menghilangkan kerajaan Majapahit yang beragama Hindu.
Setelah wafatnya Patih Yunus maka kekuasaan dipegang oleh Patih
Trenggono, yakni seorang Mujahid besar yakni akan usahanya masuklah
Islam ke daerah Jawa Barat. Dan akhirnya dia wafat pada tahun 953 H/
1546 M.
3. Kerajaan Banten (960-1096 H/ 1522-16854 M) Kerajaan Mataram Islam (991 1055 H/ 1583-1645 M)
Kerajaan ini terpisah dari kerajaan Demak, mencapai puncak kejayaannya
pada masa Sultan Hasanuddin yang merupakan raja pertamanya. Kemudian
Sultan Yusuf yang merupakan putranya dan berhasil melakuakna penamabahan
penyebaran Islam di Jawa Barat, dan kerjaan ini menjadi pusat
perdagangan yang penting.
Belanda memusatkan perhatiannya pada kerjaan ini, dan sat di pegang oleh
Sultan Ageng Tirtayasa, kerajaaan ini mencapai puncak kejayaannnya,
namun usaha Belanda tak sia-sia hingga akhirnya dapat mengalahkan Banten
pada tahun 1096 H/ 1684 M
4. Kerajaan Gowa ( 1078 H/ 1667 M hingga abad ke-13 H/ 19 M)
Pada tahun 1583 kerajaan ini diperintah oleh seorang muslim bernama
Senopati, yangberorientasi untuk menyebarakan Islam di seluruh Jawa.
Adapaun raja Mataram yang terkenal adalah Sultan Agung, setelah wafatnya
Sultan timbulah pertikaian didalam pemerintahan yang akhirnya
memungkinkan Belanda mengalahkan mereka.
5. Kerajaan-kerajaan Semenanjung Melayu
Setelah jatuhnya Malaka, timbulah banyak kerajaan yang menempati
posisinya. Kerajaan ini telah memberikan andil besar dalam menyebarkan
Islam dan memerangi penjajah.
Selain denagn banyaknya kerajaan-kerajaaan Islam, kondisi perkembangan
Islam di Indonesia pun dipengaruhi oleh tindak tanduk para penyiarnya
yakni yang terkenal denagn wali songo, para wali ini terkenal denagn
syi’ar dakwahnya yang gigih dalam menyebarkan Islam.
Dan terliaht pulalah dengan banyakanya ormas Islam yang berakar budaya
di negri ini, bahakn hingga saat ini Indonesia mencatat sebagai negeri
dengan muslim terbanyak
PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
A. Asal-usul Islam di Idonesia
Di tinjau dari letak geografisnya, Indonesia termasuk dalam kawasan
nusantara. Oleh karena itu sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang
asal-usul Islam masuk ke Indonesia maka kita terlebih dahulu mengetahui
asal-usul masuknya Islam ke Nusantara.
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan nusantara di kenal sebagai
pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi
sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan nusantara
dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara.Wilayah barat nusantara
dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik
perhatian,terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi
para pedagang,dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan
India.Sementara itu,pala dan cengkeh yang berasal dari maluku dipasarkan
di jawa dan Sumatra,untuk kemudian di jual kepada para pedagang asing
pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan jawa antara abad ke-1 dan
ke-7 M sering disinggahi oleh para pedagang asing, seperti lamuri (Aceh
), Barus dan Palembang di Sumatra, Sunda kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang para pedagang yang berasal dari Timur
Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakkan barang dagangan,
tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama islam. Dengan demikian,
agama islam telah ada di Nusantara ini bersamaan dengan kehadiran para
pedagang arab tersebut, meskipun belum tersebar secara intensif
keseluruh wilayah Indonesia.
Pembahasan tentang Asal-Usul islam di Indonesia serta siapa pembawa nya
menjadi perdebatan para ahli sejarah.banyak sekali para sejarawan yang
mengupas tentang asal-usul islam masuk ke nusantara.Dan pada paparan
berikut setidaknya ada tiga teori mengenai asal-usul islam di Indonesia.
Teori pertama mengungkapkan bahwa agama islam masuk ke nusantara berasal
dari Persia.Teori ini di dukung oleh kenyataan bahwa di Sumatra bagian
Utara (Aceh ) terdapat perkumpulan orang-orang Persia sejak abad ke-15
marrison menguatkan teori pertama ini dengan dasar adanya pengaruh
Persia yang jelas dalam kesusateraan Melayu.Kedatangan ulama besar
bernama Al-Qadhi Amir Sayyid Asyirazi dari Persia di kerajaan samudera
Pasai ikut juga sebagai pengamat dan penegas teori Persia.
Teori kedua berpendapat bahwa agama islam masuk ke Nusantara berasal
dari Negara India.Snouck hurgronje (Belanda ) misalnya mengungkapkan
bahwa agama islam masuk ke Indonesia berasal dari kota Dakka,
India.Walau berbeda dengan Snouck hurgronje ahli sejarah lain yaitu
Pijnappel dan Moquette keduanya juga sama dari Belanda ini berpendapat
bahwa agama islam masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat dan Malabar,
India.Pembawanya adalah orang Arab yang telah lama tinggal di Wilayah
tersebut.Penggagas teori kedua ini mendasarkan penelitiannya pada
kedamaan madzhab yang di anut oleh kaum muslimin di Indonesia dan di
Gujarat.
Di samping itu Moquette menguatkan teori islam Indonesia berasal dari
Gujarat (India ) , dengan hasil penelitiannya terhadap batu nisan di
kedua wilayah tersebut.Menurutnya, ada persamaan mencolok dan jelas
antara batu nisan di Pasai yang tertulis tanggal 17 Dzulhijjah 831 H /27
September 1428 M dan batu nisan syekh Maulana Malik Ibrahim ( salah
satu wali Songo )di Gresik dwngan batu nisan di Cambay, Gujarat.Atas
dasar pertemuan itulah , Moquette menegaskan bahwa Islam di Nusantara
berasal dari Gujarat.Teori islam Nusantara ini juga diperkuat oleh
Fatimi.Ia menyatakan bahwa Islam berasal dari Bengal .Hasil penelitian
Fatimi atas batu nisan Malik al-Saleh diketemukan adanya banyak
persamaan antara batu nisan tersebut dengan batu nisan di Bengal.Fatimi
juga menguatkan pendapatnya dengan menandaskan bahwa kebanyakan para
tokoh di Pasai adalah orang Bengal atau keturunan dari mereka.
Menurut pendapat Morisson; agama islam masuk ke Nusantara dibawa oleh
orang-orang dari Pantai Coromandel.Pendapat yang sama sebelumnya pernah
dikemukakan oleh Arnold.Ia mendasarkan penelitiannya pada kesamaan
Madzhab antara kaum muslimin dari Pantai Coromandel (juga Malabar) dan
Nusantara,yakni kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyah .Namun , Arnold
mengakui juga bahwa Coromandel dan Malabar tidaklah satu-satunya
asal-usul islam masuk ke Nusantara .Ia berpendapat bahwa islam nusantara
juga berasal dari Negara Arab.Teori Arnold yang menyatakan bahwa islam
berasal dari India dan Arab sekaligus juga pernah dikemukakan oleh
sejarawan yang bernama Crawford.
Teori ketiga Menurut sejarawan . Keijzer memiliki analisis yang
berbeda,menurut nya,Agama islam masuk ke Nusantara berasal dari Mesir.Ia
mendasarkan teorinya pada kesamaan madzhab ,yaitu madzhab
Syafi’iyah.Sementara itu ,Niemann dan de Holander menyatakan Hadramaut
sebagai tempat islam berasal.Pada umumnya,para ahli di Indonesia setuju
teori Arab ini.
Berdasarkan hasil seminar Nasional masuknya islam ke Nusantara yang di
adakan tahun 1969 dan tahun 1978 ,mereka menyimpulkan bahwa agama islam
masuk ke Nusantara pada abad VII M dan langsung dari tanah arab.Daerah
yabg pertama kali disinggahi adalah pesisir Sumatera.Agama islam
disebarkan oleh para saudagar muslim yang juga bertidak sebagai
muballigh,dan dilakukan dengan cara damai.
Sedangkan, Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan
kepercayaan seperti animisme, dinamisme, hindu dan budha, sudah banyak
di anut oleh bangsa Indonesia bahkan di berbagai wilayah kepulauan
Indonesia telah berdiri kerajaan bercorak hindu dan budha, mislanya
kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan
sebagainya. Namun Islam datang kewilayah-wilayah tersebut dapat diterima
dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip
perdamaian, persamaan antara manusia ( tidak ada kasta ), menghilangkan
perbudakan dan yang paling penting adalah masuk kedalam Islam sangat
mudah hanya dengan membaca dua kalimat syahadat dan tidak ada paksaan.
B.Proses Penyebaran Islam di Indonesia
Ditinjau dari letak geografisnya , wilayah Indonesia terletak kawasan
Asia Tenggara .Masyarakat di wilayah ini telah mempunyai peradaban yang
tinggi sebelum kedatangan islam. Hal demikian dikarnakan kawasan Asia
Tenggara terdiri dari Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan
agama. Negara-negara ini, termasuk Indonesia telah memiliki kontak
dengan peradaban bangsa India dan Cina. Tidak hanya dalam aspek
peradabannya saja, tetapi juga adat istiadat , agama dan kepercayaan.
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan.
Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara
damai.Proses penyebaran agama islam di Indonesia dilakukan dengan banyak
cara.yaitu melalui perdagangan , perkawinan , pendidikan ,politik,
kesenian, tasawuf, yang kesemuanya mendukung meluasnya ajaran agama
islam.
1) Perdagangan. Pada abad ke-7 M, bangsa Indonesia kedatangan para
pedagang islam dari Arab,Persia, dan India.Mereka telah ambil bagian
dalam kegiatan perdagangan di Indonesia.Hal ini konsekwensi logisnya
menimbulkan jalinan hubungan dagang antara masyarakat Indonesia dan para
pedagang islam .Di samping berdagang, Sebagai seorang muslim juga
mempunyai kewajiban berdakwah maka para pedagang islam juga menyampaikan
dan mengajarkan agama dan kebudayaan islam kepada orang lain.Dengan
cara tersebut, banyak pedagang Indonesia memeluk agama islam dan mereka
pun menyebarkan agama dan budaya islam yang baru dianutnya kepada orang
lain.Dengan demikian,secara bertahap agama dan budaya islam tersebar
dari pedagang Arab , Persia, India kepada bangsa Indonesia.Proses
penyebaran islam melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih
efektif di banding cara lainnya.Apalagi yang terlibat dalam perdagangan
bukan hanya dari golongan masyarakat bawah, melainkan juga golongan
kelas atas seperti kaum bangsawan atau raja.
2) Perkawinan. Para pedagang muslim melakukan aktifitas perdagangan
dalam waktu yang cukup lama.banyak dari mereka yang tinggal dalam waktu
yang cukup lama dalam suatu daerah.Keadaan inilah yang mempererat
hubungan mereka dengan penduduk pribumi atau dengan kaum bangsawan
pribumi.Hubungan komunikasi yang baik ini tidak jarang diteruskan dengan
adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang
muslim.Lambat laun terbentuk masyarakat muslim dengan adat islam hingga
suatu saat terbentuknya sebuah Kerajaan islam .Misalnya,perkawinan Raden
Rakhmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, perkawinan antara Sunan
Gunung Djati dengan Putri Kawungaten , perkawinan antara Raja Brawijaya
dengan putrid Jeumpa yang beragama islam kemudian berputera Raden Patah
yang pada akhirnya menjadi raja Demak.
3) Politik.Seorang raja tentu saja mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang
besar dan memegang peran yang penting dalam proses Islamisasi.Pada saat
seorang raja memeluk agama islam, maka rakyat juga akan
berbondong-bondong mengikuti jejak rajanya memeluk agama islam.Telah
dimaklumi masyarakat Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi dan
seorang raja selalu menjadi panutan bahkan menjadi contoh bagi
rakyatnya.Setelah raja dan rakyat memeluk agama islam, maka kepentingan
politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan , yang diikuti
dengan penyebaran agama islam.misalnya,Sultan Demak mengirimkan pasukan
nya dibawah pimpinan Fatahillah untuk menguasai wilayah jawa barat dan
memerintahkan menyebarkan agama islam disana.
4) Pendidikan. Seluruh Da’i, Ulama, guru-guru agama , ataupun para kyai
memegang peranan penting dalam penyebaran agama islam dan kebudayaan
islam.mereka menyebarkan islam melalui jalur pendidikan, yaitu dengan
mendirikan pondok-pondok pesantren. Pondok pesantren adalah pusat tempat
pengajaran agama islam bagi para murid yang di lingkungan pesantren
dinamakan santri. Mereka kemudian menyebarkan dan mengembangkan agama
islam ke masyarakat, bahkan setiap santri setelah lulus dari pesantren
mereka selalu berusaha untuk dapat membangun pesantren sendiri dan juga
tempat ibadah sehingga tak asing kita banyak menjumpai pondok pesantren
di sekitar kita.
5) Kesenian. Penyebaran agama islam melalui kesenian dapat dilakukan
dengan mengadakan pertunjukkan seni gamelan da Wayang.Cara seperti ini
banyak ditemui di jogjakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain.Seni gamelan
banyak digemari masyarakat jawa dan ini tentu dapat mengundang
masyarakat berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah islam.
6) Tasawuf. Seorang Sufi biasa dikenal dengan hidup dalam kesederhanaan ,
mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di
tengah-tengah masyarakatnya.Para sufi biasanya memiliki keahlian yang
membantu masyarakat,diantaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit dan
lain-lain.mereka juga aktif menyiarkan dan mengajarkan ajaran islam
.Penyiaran agama islam dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat.Para
sufi pada masa itu antara lain Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung
jawa.
7) Kekuasaan politik . Artinya penyebaran islam di Nusantara, tidak
terlepas dukungan yang kuat dari para sultan. Di pulau Jawa, misalnya
kesultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung
perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara,
dan para sultan di seluruh Nusantara salain bahu-membahu dan
tolong-menolong dalam melindungi dakwah Islam.
C. Perkembangan Islam di beberapa wilayah Nusantara (Indonesia)
1). Di Sumatra
Kesimpulan hasil seminar medan di atas, dijelaskan bahwa wilayah
Nusantara yang mula-mula di masuki Islam adalah pantai barat pulau
Sumatera dan daerah asai yang terletak di Aceh Utara yang kemudian
masing-masing kedua daerah tersebut berdiri kerajaan Islam yang pertama
yaitu kerajaan Perlak dan Samudra Pasai. Menurut keterangan Prof. Aly
Hasmy dalam makalah pada seminar “ Sejarah masuk dan berkembangnya Islam
di Aceh” yang di gelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Samudra
Pasai lah kerajaan pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama
adalah Sultan Malk As-shaleh (1261-1297). Sultan Malik As-Saleh sendiri
semula bernama Merah Silu setelah mengawini putrid raja Perlak kemudian
masuk islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang
kemudian memberi gelar Sultan Malik as-Saleh.
Kerajaan Islam samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di
Indonesia. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan sekitar
awal atau pertengahan abad ke-13 M sebagai hasil proses Islamisasi
daerah-daerahpantai yang pernah disinggahi oleh para pedagang muslim
sejak abad ke-7 M, dan seterusnya. Raja pertamanya adalah Malik
as-Sholeh.
Pulau Sumatera adalah daerah nusantara yang paling awal melakukan kontak
dengan para saudagar muslim. Sebelum sampai di Cina, para pedagang dari
Arab, Persia dan India singgah di pelabuhan-pelabuhan di sepanjang
pantai Sumatera. Pada saat yang sama kerajaan sriwijaya sedang mengalami
kemunduran, pusat-pusat pelabuhan dagang terus bergeser kearah utara.
Keberadaan para saudagar muslim merupakan sumber ekonomi yang sangat
menguntungkan. Keunggulan para pedagang muslim memudahkan mereka
memantapkan posisi, sehingga dengan mudah bisa masuk kelingkaran istana
melalui perkawinan dengan perempuan dari kalangan bangsawan setempat.
Letak kerajaan Samudera pasai berada di pesisir timur laut Aceh ( Aceh
Utara sekarang). Kerajaan Samudera Pasai ini berdiri berdiri sampai
tahun 1524 M. pada tahun 1521 M kerajaan Samudera ditaklukkan dan
dikuasai oleh bangsa Portugis yang kemudian menguasainya selama tiga
tahun. Setelah itu, sejak tahun 1524 dan seterusnya, kerajaan Samudera
Pasai masuk dibawah kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh
Darussalam. Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada
awal abad ke-16 M. ia memerintah antara tahun 1507 M hingga 1522 M.
2). Di Jawa
Benih-benih kedatangan Islam di pulau Jawa sebenarnya sudah dimulai pada
abad pertama Hijriyyah atau abad ke-7 M. Hal ini di tuturkan oleh
Prof.Buya Hamka dalam bukunya Sejarah umat Islam, bahwa pada tahun 674 M
sampai 675 M. Sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di
tanah Jawa (kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi
Muawiyyah saat itu baru penjajagan saja, tapi pposes dakwah selanjutnya
dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai
sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka
dan pasai di satu pihak dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat.
Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali sanga, yaitu :
a. Maulana Malik Ibrahim ( Sunan Gresik )
b. Raden Ali Rahmatullah ( Sunan ampel )
c. Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku ( Sunan Giri )
d. Makhdum Ibrahim ( Sunan Bonang )
e. Raden Syahid ( Sunan Kalijaga 0
f. Syarifuddin ( Sunan Drajat )
g. Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati )
i. Raden Umar Said ( Sunan muria )
Walisongo sebagai jantung penyiaran Islam di Jawa. Ajaran-ajaran
walisongo memiliki pengaruh yang besar dikalangan masyarakat Jawa,
bahkan kadang kala menyamai pengaruh seorang raja. Kehadiran walisongo
di terima dengan baik oleh masyarakat, karena walisongo menerapkan
metode dakwah yang akomodatif dan lentur. Kedatangan para wali di
tengah-tengah masyarakat Jawa tidak di pandang dipandang sebagai sebuah
ancaman. Para wali menggunakan unsure-unsur budaya lama (Hindu dan
Budha) sebagai media dakwah. Dengan sabar sedikit demi sedikit walisongo
memasukan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam unsure-unsur lama yang
sudah berkembang metode ini biasa disebut dengan metode sinkretis.
3). Di Sulawesi
Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan
dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun politikdan
kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus
dan merambah Sulawesi. Dan di Sulawesi terdapat kerajaan Gowa yang pada
saat itu mempunyai hubungan baik dengan Ternatedi bawah pimpinan
Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i
bernama Datuk Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada
tanggal 22 September 1605 Karaeng Tonigallo, raja Gowa yang pertama
memeluk Islam yang kemudian bergelar sultan Alaudin Al-Awwal (1591-1636)
dan di ikuti oleh perdana mentri dan atau wazir besarnya.
Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam Gowa Tallo menyampaikan
pesan Islam kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng
dan Bone. Raja Luwu segera menerima pesan islam di ikuti oleh raja Wajo
tanggal 10 Mei 1610 dan raja Bone yang bergelar Sultan Adam menerima
Islam tanggal 23 November 1611. Dengan demikian Gowa (Makassar) menjadi
kerajaan yang berpengaruh dan di segani. Pelabuhannya sangat ramai
disinggahi para pedagang dari berbagagi daera dan mancanegara. Hal ini
mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi kerajaan Gowa . Puncak
kejayaan kerajaan Makassar terjadi pada masa Sultan Hasanuddin
(1653-1669).
4). Di Kalimantan
Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melelui
tiga jalur. Jalur pertama melalui malaka yang di kenal sebagai kerajaan
Islam setelah perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian
membuat dakwah semakin menyebar sebab para mubalig dan komunitas muslim
kebanyakan mendiami pesisir barat Kalimantan. Jalur kedua, Islam datang
disebarkan oleh para mubalig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke
Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak
mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Para da’I tersebut berusaha
mencetak kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini. Maka
lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad
Al-Banjari. Jalur ketiga, para da’I datanh dari Sulawesi (Makasar)
teruta da’I yang terkenal saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan
Tunggang Parangan.
a. Kalimantan Selatan
Masuknya Islam di Kalimantan Selatan adalah di awali dengan adanya
krisis kepemimpinan di penghujung waktu berakhirnya karajaan Daha Hindu.
Saat itu Raden Samudera yang di tunjuk sebagai putera mahkota oleh
kakeknya, Raja Sukarama minta bantuan kepadakerajaan Demak di Jawa dalam
peperangan melawan pamannya sendiri, raden Tumenggung Sultan Demak (
Sultan Trenggono ) menyetujuinya, asal Raden Raden Samudera bersedia
masuk Islam.
b. Kalimantan Timur
Di Kalimantan Timur inilah dua orang da’I terkenal datang, yaitu Datuk
Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, sehingga raja Kutai ( raja
mahkota) tunduk kepada Islam di ikuti oleh para pangeran, para menteri,
panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah Islam di kepulauan ini.
5). Di Maluku
Kepulauan Maluku terkenal di Dunia sebagai penghasil rempah-rempah,
sehingga menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkcuali para
pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari mancanegara.
Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini.
Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke-15 atau sekitartahun
1440 di bawa oleh para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa
(terutama para Da’i yang dididik oleh para wali sanga di jawa). Tahun
1460 M, Vongi Tidore, raja ternate masuk islam. Namun menurut H.J De
Graaft (Sejarawan Belanda) bahwa raja ternate yang benar-benar muslim
adalah Zaenal Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke
kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Tetapi di antara sekian banyak
kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan, yaitu Ternate
dan Tidore.
Raja-raja Maluku yang masuk Islam seperti :
a. Raja Ternate yang bergelar Sultan Mahrum (1465-1486)
b. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin
c. Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaluddin
d. Raja Jailolo yang berganti nama dengan Sultan Hasanuddin
e. Pada tahun 1520 Raja Bacan masuk Islam dan bergelar Zaenal Abidin.
D. Peranan Umat Islam dalam mengusir penjajah 18
Ketika kaum penjajah datang ke Indonesia, islam sudah mengakar dalam
hati bangsa Indonesia, bahkan saat itu sudah berdiri beberapa kerajaan
Islam, seperti Samudera Pasai, Perlak, Demak dan lain-lain.
Beberapa ajaran islam seperti jihad, membela yang tertindas, mencintai
tanah air dan membasmi kedzaliman adalah factor terpenting dalam
membangkitkan semangat melawan para penjajah. Bisa dikatakan bahwa
hamper semua tokoh pergerakan, termasuk yang berlabel nasionalis radikal
sekalipun sebenarnya terinspirasi dari ruh ajaran Islam. Sebagai bukti
misalnya Ki Hajar Dewantara ( Suryadi Suryaningrat ) tadinya berasal
dari Sarekat Islam (SI), Soekarno sendiri pernah menjadi guru
Muhamadiyyah dan pernah nyantri di bawah bimbingan Tjokroaminoto, RA
Kartini juga sebenarnya bukanlah seorang yang hanya memperjuangkan
emansipasi wanita ia seorang pejuang Islam yang sedang dalam perjalanan
menuju Islam yang kaffah. Ketika sedang mencetuskan ide-idenya ia sedang
beralih dari kegelapan kepada cahaya terang (Islam). Patimura seorang
pahlawan yang diklaim sebagai seorang Nasrani sebenarnya dia adalah
seoarang muslim yang taat.
Semangat jihad yang dikumandangkan para pahlawan semakin terbakar ketika
para penjajah berusaha menyebarkan agama Nasrani kepada bangsa
Indonesia yang mayoritas sudah beragama Islam yang tentu saja dengan
cara-cara yang berbeda dengan ketika Islam datang dan diterima oleh
mereka, bahwa Islam tersebar dan di anut oleh mereka dengan jalan damai
dan persuasive yakni lewat jalur perdagangan dan pergaulan yang mulia
bahkan walisanga menyebarkan dengan seni dan budaya. Para da’I Islam
sangat faham dan menyadari akan kewajiban menyebarkan Islam kepada orang
lain, tapi juga mereka sangat paham bahwa tugasnya hanya sekedar
menyampaikan. Hal ini sesuai dengan Q.S. Yasin ayat 17 : ” Tidak ada
kewajiban bagi kami hanyalah penyampaian ( Islam ) yang nyata”. 19
DAFTAR PUSTAKA
A.Syalabi, 2000, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra
Abu Ayuhbah, M.M (1994). Kitab Hadits Shahih Yang Enam. Jakarta : Litera AntarNusa
Al-Mawardi, Abu Al-Hasan,Tt, Cendikiawan Muslim.[Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org [20 agustus 2009]
Amin, Husain Ahmad. 2000. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1971). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1993). Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta : Bulan Bintang.
As-Shobuni, M.A. (1985). At-Tibyan fi ‘Ulumil Quran. Bairut : ‘Alimul Kitab
El-Saha.M.Ishom ,2002, 55 Tokoh Muslim Terkemuka.Jakarta:Darrul Ilmi
Ishom, M. dan Hadi, Saiful. (2004). Profil Ilmuan Muslim Perintis Ilmu Pengetahuan Modern. Jakara: Fuzan Intan Kreasi.
Kamiluddin, U. (2006). Menyorot Ijtihad Persis. Bandung : Tafakkur.
Masur, Hasan. Khoiruddin,Abdul Wahhab. Addinul Islamy. Gontor Press: Ponorogo.
Mudzakir, A.S. (2004). Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta : Lintera Antar Nusa
Murtiningsih, W. (2008). Biografi Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta: Insan Madani.
Musthofa, S.(1987).The science of islam. [Online]. Tersedia di http://www.ilmuilmuislam.com [20 Agustus 2009]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar